No. 16 After Edward Tufte, 1983
Annual Review 2020: 4 Hal Yang Saya Pelajari
Empat hal yang saya pelajari di tahun pandemi, dari rumah, hampir 24 jam sehari, seperti Groundhog Day.

Waktu saya mengetik ini, kalender sudah bulan Maret. 2020 sudah lewat tiga bulan, tapi residu COVID masih pekat. Wajar sih. Sampai detik ini, hampir seluruh jatah 24 jam saya masih habis di rumah. Bangun, kerja, tidur, ulangi. Mirip Groundhog Day, minus Bill Murray.
Tahun yang kacau itu yang membuat saya akhirnya serius melakukan annual review. 2020 tahun yang aneh, dan saya ingin melihatnya dengan jernih sebelum menyusun rencana untuk 2021. Kalau tidak, saya takut 2021 cuma jadi 2020 bagian dua.
Format annual review-nya saya ambil dari proses buatan Tiago Forte dan David Perell, dua orang favorit saya di internet. Workshop-nya dua hari, total sekitar 6 jam, dengan pendekatan cohort bottom to top.
Ini bukan workshop self paced. Saya mengerjakannya bareng ratusan orang lain lewat Zoom, dengan modal data dari 2020: foto, jurnal, tulisan, isi kalender. Bottom to top artinya saya harus mundur dulu, menjawab berbagai prompt pertanyaan yang aneh-aneh tentang tahun kemarin, baru boleh melangkah maju. Jawaban-jawaban itu nanti jadi bahan key takeaway dan rencana 2021. Tiago dan David juga mendorong peserta untuk mempublikasikan hasilnya, sebagai accountability hack. Itu sebabnya tulisan ini sekarang nongol di website saya, dan bukan cuma di jurnal.
4 key takeaway di 2020
Ada banyak yang saya pelajari di 2020. Ini empat yang paling menempel:
Apa yang saya pikir akan bikin saya happy, dengan apa yang beneran bikin saya happy, seringkali gak nyambung
Ada hal-hal yang saya bayangkan akan bikin saya bahagia sekali. Proyek kantor yang sukses. Karir. Barang. Waktu akhirnya tercapai, rasanya ternyata biasa saja. Yang benar-benar bikin senang malah hal-hal intangible yang biasanya saya take for granted. Contoh kecilnya, bocah umur 3,5 tahun bernama Zen. Saya tahu dia penting dalam hidup saya. Yang saya tidak sangka, dia terus-menerus mengisi baterai saya, setiap hari, tanpa diminta.
Waktu membuka foto-foto 2020, yang membuat saya merasa penuh adalah foto Zen, Zia, Gita, keluarga, teman. Jauh lebih penuh daripada waktu saya melihat daftar pencapaian saya di kantor.
Society dan media akan terus menyeret otak monyet saya ke game of status, mendikte mana yang penting dan mana yang tidak. Otak monyet saya juga gampang sekali diseret. Jadi saya perlu terus berlatih memilah mana yang “true joy” dan mana yang bukan, lalu menyusun hidup saya di sekitar yang pertama.

Gak semuanya gelap
2020 menyeret saya keluar dari zona nyaman. Memberhentikan staff. Mengambil alih sales. Berhenti jalan-jalan ke kota lain. Kerja dari rumah setiap hari. Tidak bisa bertemu keluarga, padahal tinggal satu kota. Cemas kalau-kalau saya menulari orang terdekat. Meeting yang tidak putus-putus. Daftarnya masih panjang, dan semuanya terjadi di tahun yang sama.
Having said that, di saat yang sama saya merasa sangat beruntung. Saya hidup di zaman yang masih mengizinkan saya bekerja dan menikmati hidup, dari ruang tamu.
Di kantor, saya masih bisa bekerja dan berinteraksi secara virtual. Saya bersyukur sekali klien masih mempercayakan produk mereka untuk dibangun oleh SoftwareSeni. Pandemi juga membuat ikatan saya dengan tim jadi lebih kuat. SoftwareSeni bertahan tahun kemarin, bahkan growth rate-nya tetap jalan seperti tahun sebelumnya.
Di rumah, saya bisa menghabiskan sebagian besar waktu bersama keluarga. Dan itu mengajari saya untuk benar-benar hadir. Paying attention. Be really there, bukan di tempat lain, bukan di layar.
Di waktu senggang, saya masih bisa nonton Mandalorian (in super high resolution) bareng Gita. Saya masih bisa menikmati telur dadar sempurna buatan Mamak. Hell, saya bahkan masih bisa lari, dan pulih dari cedera hamstring yang menghantui saya selama 4 bulan.
Iya, 2020 punya sisi gelapnya. Tapi hidup memperlakukan saya dengan sangat baik, lebih baik dari yang pantas saya terima, dan saya berterima kasih untuk itu.

Subtraction is the true addition
Salah satu kutukan, sekaligus berkah, dalam hidup saya adalah hobi bereksperimen dengan hal baru. Shiny object syndrome sudah menghantui saya sejak kecil. Begitu ada hal baru yang menarik, eskalasinya cepat sekali. Pagi tertarik, sore sudah terobsesi.
Hasilnya, saya jadi the ultimate jack of all trades, master of none. Yang, buat saya pribadi, termasuk kekuatan saya.
Yang masih harus saya pelajari: I can only have 24 hours in a day. Menumpuk hobi baru, minat baru, barang baru, project baru, lalu mencoba merawat semuanya sekaligus itu melelahkan. Saya tidak bisa pindah total ke minat yang baru kalau yang lama masih saya pegangi di belakang. Sunk cost fallacy itu licin.

Jangan meninggalkan lari
Setiap orang punya hero story. Hero story saya adalah half marathon di Merapi Run, Februari 2020. Lari subuh-subuh di kaki Gunung Merapi, ditemani hujan badai dan kabut, sementara matahari pelan-pelan terbit. Rasanya surreal. I slayed my dragon and became my own hero.
Sayangnya, habis Februari semuanya mundur. Pandemi membuat saya masuk survival mode. Saya jadi sering gagal lari pagi. Ditambah lagi, saya malas mengobati cedera hamstring, jadi saya mandek lari lama sekali. Di 2019 saya lari 179 kali, total 821 km. Di 2020 catatan itu melorot 70%, tinggal 68 kali lari dan 245 km.

Saya tidak percaya ini kebetulan. Waktu saya berhenti lari, hampir bersamaan datang semua titik terendah saya di tahun itu. Lalu waktu saya mulai lari lagi setelah 5 bulan mandek, everything started to pick up, di kantor maupun di rumah.
Ternyata lari itu vital buat saya. Tanpa lari, saya diam di tempat, lalu mundur, lalu jadi versi terburuk saya.
Run fix me.