Ganis Angger Atmawarin

No. 02 After Herb Lubalin, 1968

Dwight Schrute Line di SoftwareSeni

Tentang dinding kutipan di kantor SoftwareSeni, dan satu kalimat Dwight Schrute yang berhasil saya selipkan di antara Steve Jobs dan Elon Musk.

Salah satu prestasi paling mengkilat saya di kantor: berhasil menempelkan quote dari karakter TV series favorit saya, Dwight Schrute.

Saya sadar ini daftar prestasi yang agak memprihatinkan.


Biar saya cerita konteksnya.

Di kantor SoftwareSeni ada satu dinding yang secara tidak resmi kami sebut “the wall of wisdom.” Dinding ini tidak pernah disetujui manajemen lewat rapat formal. Lebih mirip proyek gerilya. Seseorang menempel satu quote, orang lain menambahkan, dan pelan-pelan dinding itu jadi galeri kata-kata dari orang-orang yang kemungkinan besar tidak pernah menginjak kantor di Jogja ini.

Steve Jobs ada di sana. Elon Musk juga. Plus beberapa quote motivasi generik yang muncul di Pinterest kalau kamu search “inspirational quotes for office.” Standar.

Dan di antara deretan tokoh serius dan terhormat itu, saya berhasil menyelipkan satu dari Dwight Kurt Schrute III.

Karakter fiksi. Jabatannya Asisten Regional Manager. Maaf, Assistant to the Regional Manager. Di Dunder Mifflin, perusahaan kertas fiksi di Scranton, Pennsylvania. Orang yang percaya bahwa beets, bears, dan Battlestar Galactica adalah tiga pilar peradaban.

Quote-nya menempel di dinding kantor kami. Di antara Jobs dan Musk. Tidak ada yang protes. Saya tidak pernah tahu apakah itu karena semua orang setuju, atau karena tidak ada yang benar-benar membaca dinding itu.

Menurut saya, ini salah satu indikator terbaik tentang culture sebuah perusahaan.

Kenapa The Office penting

Saya tahu ini terdengar berlebihan. Sebuah sitkom tentang kantor, dipakai untuk bicara soal manajemen sungguhan.

Tapi di situ jeniusnya The Office. Di balik joke absurd dan momen cringe Michael Scott, show ini studi kasus paling jujur tentang dinamika kantor yang pernah dibuat.

Lihat apa yang sebenarnya terjadi di Dunder Mifflin. Sekelompok orang yang tidak saling memilih sebagai teman, dipaksa menghabiskan delapan jam sehari bersama, mengerjakan pekerjaan yang sering membosankan, untuk perusahaan yang sedang sekarat. Dan entah bagaimana, mereka menemukan joy di situ.

Jim dan Dwight bertengkar setiap hari, tapi ketika Dwight butuh bantuan, Jim datang. Dalam banyak hal Michael Scott adalah bos terburuk yang bisa kamu bayangkan, tapi dia genuinely care pada “family”-nya. Angela, Stanley, Kevin, Oscar punya quirk yang menyebalkan, dan sesekali momen manusiawi yang tidak terduga.

Show ini tidak sedang bicara soal efisiensi. Ia bicara soal belonging.

Rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari pekerjaanmu sendiri. Itu fondasi culture perusahaan yang sehat. Bukan poster motivasi di dinding. Bukan unlimited PTO. Bukan meja ping-pong.

Hal-hal kecil

Di SoftwareSeni, culture tidak kami desain dari atas ke bawah. Tidak ada retreat perusahaan tempat kami brainstorm “core values” lalu memindahkannya ke slide deck.

Culture kami tumbuh dari hal-hal kecil. Kecil sekali.

Seperti quote Dwight Schrute di dinding.

Atau satu developer yang selalu membawa makanan dari rumah dan menawarkannya ke semua orang. Atau cara kami menyebut bug parah “kebakaran” dan bug kecil “asap”. Entah siapa yang mulai, tapi sekarang semua orang pakai.

Atau ritual kopi jam tiga sore, ketika beberapa orang berdiri di dekat mesin kopi, bukan karena butuh kafein, tapi karena butuh jeda. Obrolan di situ, soal film, game, atau kenapa lalu lintas Jogja makin gila, kadang melahirkan ide yang tidak pernah muncul di meeting room.

Edgar Schein, profesor MIT yang mungkin orang paling serius sedunia soal organizational culture, bilang bahwa culture bukan apa yang tertulis di website perusahaan. Culture adalah asumsi tak terucap yang menentukan bagaimana orang berperilaku ketika tidak ada aturan eksplisit.

Quote Dwight di dinding itu salah satu asumsi tak terucap kami. Bunyinya kira-kira begini: di sini boleh tidak serius. Boleh tertawa. Boleh jadi manusia di tempat kerja, bukan robot yang kebetulan bisa ngoding.

Humor sebagai indikator

Saya percaya kesehatan sebuah organisasi bisa dinilai dari humornya.

Kantor yang sehat punya inside jokes. Punya referensi yang cuma dimengerti orang dalam. Bisa menertawakan diri sendiri, termasuk menertawakan bosnya. Di SoftwareSeni, saya sering jadi bahan joke. Saya memilih menganggap itu tanda baik. Orang cuma bercanda tentang orang yang membuat mereka nyaman. Paling tidak, begitu yang saya katakan pada diri sendiri.

Kantor yang tidak sehat punya humor yang tajam dan melukai, sarkasme yang sebenarnya agresi pasif. Atau lebih buruk lagi, tidak punya humor sama sekali. Semua serius. Semua formal. Semua “professional.”

Profesional itu perlu. Tapi kantor yang cuma profesional itu dingin.

Michael Scott, dengan segala kekurangannya, paham ini. Caranya salah, selalu salah, tapi niatnya benar. Dia ingin kantornya jadi tempat yang ingin didatangi orang, bukan tempat yang wajib didatangi. Waktu dia pergi, semua orang menangis. Bukan karena dia bos yang baik. Karena dia peduli.

Dinding dan identitas

Kembali ke dinding di SoftwareSeni.

Setelah bertahun-tahun, dinding itu jadi semacam museum mini tentang siapa kami. Ada quote serius dari pemikir besar, karena kami memang serius soal pekerjaan. Ada quote absurd dari karakter fiksi, karena hidup terlalu pendek untuk tidak tertawa.

Saya tidak ingat siapa yang menempel quote pertama. Tidak ada yang ingat. Dan saya suka itu, karena artinya dinding itu bukan proyek satu orang. Itu proyek semua orang.

Perusahaan besar sering menghabiskan jutaan untuk branding internal. Menyewa konsultan, mencetak poster besar berisi foto tim yang tersenyum terlalu lebar, memasang neon sign “INNOVATE” di lobby. Semuanya terasa palsu. Culture yang didesain dari atas itu seperti humor yang di-script. Spontanitasnya hilang sebelum rapat kedua.

Culture tumbuh sendiri kalau orang-orangnya diberi ruang untuk jadi diri sendiri.

Apa yang saya pelajari

Kalau dipaksa meringkas, saya cuma punya satu kalimat, dan itu pun bukan kalimat yang cocok dicetak jadi poster: biarkan orang menjadi aneh. Biarkan mereka menempel quote Dwight Schrute di dinding. Biarkan mereka menamai ruang meeting dengan nama karakter anime. Biarkan mereka membawa tanaman ke meja kerja.

Orang yang diberi ruang untuk jadi diri sendiri bekerja lebih baik. Soal lebih produktif atau tidak, saya tidak tahu. Mungkin iya, mungkin tidak. Yang saya lihat, mereka lebih present. Mereka datang utuh, bukan versi terpotong yang “sesuai aturan kantor.”

Dan kalau orang benar-benar hadir, ide lebih gampang keluar. Masalah selesai lebih cepat. Prosesnya sama saja. Yang berbeda, orang-orangnya saling peduli.

Saya tidak ingat quote Dwight yang mana yang saya tempel waktu itu. Mungkin “Identity theft is not a joke, Jim!” Mungkin “Whenever I’m about to do something, I think, would an idiot do that? And if they would, I do not do that thing.” Mungkin yang lain. Untuk sesuatu yang saya sebut prestasi paling mengkilat, ingatan saya soal detailnya cukup memalukan.

Tapi saya ingat rasanya. Berdiri di depan dinding itu, melihat quote dari karakter sitkom favorit saya di antara deretan pemikir besar dunia, dan merasa kantor ini, dengan segala ketidaksempurnaannya, adalah tempat yang tepat.

Pekerjaan kami mungkin tidak sepenting yang kami kira (meskipun kami suka berpikir begitu). Tapi kami mengerjakannya dengan sedikit Dwight Schrute di antara semua keseriusan.

Dwight mungkin akan mengatakan sesuatu yang jauh lebih dramatis. Mungkin melibatkan bears. Atau beets. Atau kedaulatan pertanian keluarga Schrute.

— Ganis

If that was any good

I send a letter when there’s a new essay. That’s the whole deal.