No. 09 After The compositors of Kedaulatan Rakyat, 1945
Pakuningratan No.15
Saya selalu mengira rumah itu tempat. Enam tahun di Pakuningratan, satu kali pindah kantor, dan ternyata saya salah.

Umur dua tahun, saya sudah pindah kota. Bapak membawa saya naik kapal Pelni Rinjani, yang kebetulan seumuran dengan saya, lima hari empat malam ke arah barat, untuk tinggal dengan kakek dan nenek di Malang. Sejak itu pindah kota jadi semacam konstanta. Kadang karena kebutuhan, kadang karena janji. Sampai umur 18, hidup saya tidak terikat ke tempat mana pun, dan saya tidak terlalu ambil pusing soal rumah.
Kalau kamu cukup sering pindah sewaktu kecil, kamu cepat belajar untuk tidak terlalu attached. Ke tempat, ke rutinitas, ke teman. Kapal berikutnya selalu menunggu. Di kota berikutnya selalu ada sekolah baru, dan kamu berdiri lagi di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Nama, asal, hobi. Seolah seorang anak bisa diringkas jadi tiga bullet points, dan anehnya, gurunya selalu puas.
Papua. Malang. Surabaya. Jakarta. Setiap kota meninggalkan sedikit jejak, tapi tidak ada yang cukup dalam untuk disebut akar. Saya bisa menggambar denah rumah nenek di Malang, tapi lupa nama jalannya. Saya ingat bau halaman sekolah di Papua, tanah basah dan daun yang membusuk, tapi tidak bisa menunjukkannya di peta.
Saya kira hidup akan terus begitu. Pindah, pindah lagi, mengumpulkan alamat yang tidak pernah jadi rumah.
Lalu saya pindah ke Yogyakarta. Dan salah satu tempat yang paling saya suka di kota ini adalah Pakuningratan No.15.
Bangunannya kolonial. Dindingnya tebal, mungkin setengah meter, jadi di dalam tetap dingin bahkan di siang yang paling terik. Langit-langitnya tinggi, dengan balok kayu yang dibiarkan kelihatan, gelap karena umur tapi kokoh. Lantai terasonya sudah tidak rata di beberapa tempat, karena fondasinya bergeser milimeter demi milimeter selama puluhan tahun. Jendelanya besar, jenis jendela yang dirancang orang Belanda untuk udara tropis. Daun pintu kayunya bisa dibuka penuh, jadi angin lewat begitu saja tanpa permisi.
Masuk ke bangunan seperti itu, kamu langsung sadar dinding-dinding ini sudah berdiri lama sebelum kamu datang, dan akan tetap berdiri lama setelah kamu pergi. Kamu bukan tokoh utama di sini. Kamu tamu, dan sebaiknya tahu diri.
Saya pertama kali menginjakkan kaki di sana awal musim hujan 2013. Sebelum erupsi Merapi. Sebelum ada 100 orang di dalamnya. Sebelum saya bertemu Gita. Saya sudah suka tempat itu. Kolonial dan hangat. Jl Pakuningratan No.15 adalah rumah, dan saya peduli. Untuk anak kapal Pelni, itu kejadian langka.
Waktu itu SoftwareSeni masih kecil. Mungkin belasan orang. Meja diatur seadanya di ruangan yang dulunya mungkin kamar tidur atau ruang tamu seorang pejabat kolonial. Kabel LAN melintang di lantai teraso, ditutup lakban hitam yang selalu mengelupas. Satu AC window untuk ruangan yang butuh tiga. Kipas angin di setiap meja, menderu seperti paduan suara yang tidak pernah latihan.
Coworking space dengan bean bag dan meja ping pong tidak punya yang tempat itu punya. Kalau kamu bekerja di ruangan kecil dengan orang-orang yang kamu kenal baik, semua suara jadi akrab. Ketukan keyboard Adi yang selalu lebih keras dari yang perlu. Gumaman Dion kalau sedang debugging. Langkah kaki ke dapur yang bisa kamu tebak pemiliknya tanpa menoleh. Suara-suara kecil yang, kalau dikumpulkan, artinya kamu sedang di tempat yang benar.
Angkringan di depan kantor. Ini harus dibicarakan terpisah.
Gerobak kayu dengan atap terpal. Nasi kucing, bungkusan nasi kecil dengan lauk secukupnya. Porsinya memang sengaja kecil, karena nasi kucing itu teman ngobrol, bukan alat untuk kenyang. Teh manis panas dalam gelas yang kamu tahu tidak pernah benar-benar bersih, dan tetap kamu minum.
Di angkringan itu kami berpikir. Tanpa post-it notes, tanpa facilitator, tanpa sprint retrospective. Duduk, minum, bicara. Kadang soal kerjaan, kadang soal hidup, kadang soal tidak ada apa-apa. Dan dari obrolan tanpa agenda itu, entah bagaimana, keputusan-keputusan penting terbentuk.
Keputusan untuk ambil project besar pertama kami. Keputusan untuk hire developer ke-20. Keputusan tentang kultur perusahaan yang kami mau. Semuanya bermula di kursi plastik, dengan latar suara motor lewat dan aroma sate usus yang agresif.
Di situ saya bekerja, dan di situ saya menghabiskan sebagian besar hidup saya. Suatu ketika di angkringan itu, Dion duduk sambil minum kopi instan yang selalu saya cibir. “Akan di sini sampai kapan?” tanyanya. “Sampai lama,” jawab saya.
Saya ingat nada suara saya waktu itu. Tanpa ragu, tanpa hitung-hitungan. Saya memang tidak bisa membayangkan tempat lain. Pakuningratan 15 sudah jadi bagian dari diri saya. Alamat email saya berakhiran @softwareseni.co.id, tapi rumah saya beralamat di Pakuningratan 15.
Ada memori-memori kecil yang menolak pergi.
Hujan sore yang masuk lewat jendela yang lupa ditutup, membasahi tumpukan kertas di meja tamu. Semut yang berbaris rapi di dinding menuju gula tumpah yang tidak ada yang mengaku menumpahkannya. Kucing entah milik siapa yang datang setiap siang, tidur di kursi kosong, lalu pergi menjelang maghrib. Kami memberinya nama, dan saya sudah lupa namanya. Yang saya ingat beratnya, waktu dia saya pindahkan dari kursi saya. Hangat, malas, dan sedikit tersinggung.
Malam-malam lembur ketika kantor sepi dan Jakarta menelepon minta status update yang sebetulnya cukup lewat email. Lampu neon yang berkedip satu kali sebelum menyala penuh. Setiap malam, satu kedipan, seperti sedang mengingat-ingat apa tugasnya. Jangkrik di halaman belakang yang mulai bersuara setelah jam 9, ketika kota mulai sepi.
Detail seperti ini tidak masuk annual report atau daftar milestone perusahaan. Tapi detail seperti inilah yang membuat sebuah tempat jadi tempat, dan bukan sekadar titik di Google Maps.
Awal minggu kemarin, setelah 6 tahun, kami pindah.
Dalam 2 hari, semua operasi sudah berjalan di tempat baru, Jl Magelang 65. Saya masih duduk di kursi yang sama, di meja yang sama. Lalu ada satu hal yang membuat saya takjub. Cuma butuh satu hari sampai tempat ini terasa seperti rumah.
Satu hari. Enam tahun di Pakuningratan, dan penggantinya cukup satu hari untuk terasa like home. Mestinya saya sedih. Saya sempat curiga Pakuningratan tidak seistimewa yang saya kira, atau saya tidak sesetia yang saya kira. Untuk orang yang baru saja bilang “sampai lama” dengan begitu mantap, itu kecurigaan yang agak memalukan.
Ternyata bukan dua-duanya. Cepatnya pindah hati ini menunjukkan sesuatu yang seharusnya sudah saya sadari dari dulu. Yang saya cintai bukan bangunannya.
Dinding tebal Pakuningratan, lantai terasonya, jendela kolonialnya, semuanya indah. Saya rindu mereka. Tapi bukan mereka yang membuat saya senang berangkat kerja setiap pagi. Alasannya duduk di meja sebelah saya. Alasannya berdebat soal arsitektur software di meeting room. Alasannya memesan nasi goreng untuk semua orang tanpa bertanya mau pedas atau tidak (semua orang mau pedas). Alasannya duduk di angkringan depan kantor baru, karena ternyata di Jl Magelang juga ada angkringan, dan melanjutkan obrolan yang dimulai di Pakuningratan.
Saya selalu mengira rumah itu tempat. Lokasi. Tanah.
Anak kecil di kapal Pelni itu, yang tidak pernah punya alamat lebih dari beberapa tahun dan sudah belajar untuk tidak terlalu attached, salah soal satu hal. Dia pikir karena tidak terikat ke tempat, dia tidak butuh rumah. Dia cuma belum ketemu rumah dalam bentuk yang pas.
Bentuknya ternyata sekumpulan orang.
Lima tahun lagi saya mungkin ada di jalan yang lain. Selama orang-orangnya masih mereka, jam 8 sampai 5 akan tetap terasa seperti rumah.
Dan Dion, kalau kamu baca ini: kopi instanmu masih jelek. Tapi terima kasih sudah bertanya. Dan terima kasih sudah duduk di sana ketika saya menjawab.
Sampai lama.