Ganis Angger Atmawarin

No. 11 After Massimo Vignelli, 1977

Principle

Tujuh hal yang saya lakukan dan dua yang saya hindari. Semuanya pernah saya langgar, beberapa minggu ini juga.

Lakukan

  1. Perkecil dunia.
  2. Eksekusi yang gesit.
  3. Tiap pekerjaan butuh deadline.
  4. Percaya dengan yang rutin. Percaya dengan yang eksponensial.
  5. Asumsi kalau semua ingin yang positif.
  6. Peluk yang sulit, peluk yang membosankan.
  7. Matikan AC. Matikan lampu. Buang sampah.

Hindari

  1. Jangan biarkan power bikin corrupt.
  2. Jangan judge. Gak semua sukses dari kerja keras. Gak semua kegagalan karena malas.

Daftar di atas pendek. Kelihatannya ditulis dalam lima menit, dan memang begitu. Yang lama itu bagian sebelumnya, waktu saya salah dulu, berkali-kali, sampai butirnya kepikiran sendiri.

Daftar tanpa cerita cuma jadi poster di dinding kantor. Jadi ini ceritanya.


Lakukan

1. Perkecil dunia.

Saya sudah pernah menulis soal ini, tapi saya masih saja perlu mengingatnya. Bilang ya itu gampang. Bilang tidak itu yang bikin keringetan.

Sekitar 2014-2015, saya bilang ya untuk hampir semuanya. Ya untuk freelance project. Ya untuk side business. Ya untuk ajakan startup. Ya untuk meetup. Ya untuk siapa saja yang bertanya. Hasilnya, saya ada di mana-mana dan tidak benar-benar ada di mana pun. Energi saya tersebar tipis, seperti mentega yang dioles ke roti yang kebesaran.

David Packard bilang lebih banyak organisasi mati karena tidak bisa menelan daripada karena kelaparan. Saya bukan organisasi, tapi saya pernah tersedak.

Sekarang “perkecil dunia” jadi saringan pertama saya. Setiap ada tawaran, saya tanya: ini bikin dunia saya lebih kecil atau lebih besar? Kalau lebih besar dan alasannya tidak kuat sekali, saya bilang tidak, terima kasih. Masih sambil keringetan.

2. Eksekusi yang gesit.

Kasarnya, ada dua tipe orang. Yang merencanakan dengan sempurna lalu tidak pernah mulai, dan yang langsung mulai walaupun rencananya berantakan. Ini simplifikasi, tapi berguna.

Sebagian besar umur dua puluhan saya habis di tipe pertama. Merencanakan. Bikin spreadsheet. Membaca buku tentang cara memulai, sebagai pengganti memulai. Analysis paralysis yang sudah kronis, lengkap dengan spreadsheet-nya.

SoftwareSeni yang menyembuhkan saya, pelan-pelan. Di software development, kamu bisa merencanakan berbulan-bulan, lalu realita datang begitu kamu mulai ngoding. User tidak berperilaku seperti asumsi kamu. API pihak ketiga berubah. Requirement berubah. Rencana saya ikut berubah, dengan muka cemberut.

Gesit tidak sama dengan ceroboh. Gesit artinya mulai dari yang kamu tahu, lalu menyesuaikan sambil jalan. Mirip jazz. Ada strukturnya, ada juga ruang buat improvisasi.

3. Tiap pekerjaan butuh deadline.

Parkinson’s Law bilang pekerjaan akan mengembang memenuhi waktu yang tersedia. Tanpa deadline, tugas dua jam bisa jadi proyek seminggu. Saya tidak perlu membaca hukumnya untuk tahu ini. Saya subjek percobaannya, berkali-kali.

Buat saya, deadline itu soal clarity. Tekanan cuma efek sampingnya. Begitu tahu kapan sesuatu harus selesai, saya terpaksa memilih mana yang penting. Terpaksa memotong scope. Terpaksa mengirim yang “cukup baik”, karena yang “sempurna” itu tidak pernah datang tepat waktu.

Di SoftwareSeni, setiap sprint punya deadline. Setiap meeting punya batas waktu. Setiap email punya expected response time. Kami bukan robot. Kami justru manusia biasa, dan manusia biasa tanpa batas waktu itu jago sekali membuang waktu. Saya contohnya.

4. Percaya dengan yang rutin. Percaya dengan yang eksponensial.

Kedengarannya bertentangan. Sebenarnya yang satu butuh yang lain.

Yang rutin itu menulis setiap hari, lari setiap pagi, membaca sebelum tidur, code review setiap Senin. Membosankan dan sama sekali tidak seksi. Tapi semua yang saya hargai dibangun dari situ.

Yang eksponensial itu efek tumpukan dari rutinitas tadi. Menulis setiap hari selama setahun menghasilkan lebih banyak daripada dua minggu “marathon menulis” lalu enam bulan kosong. Lari setiap pagi selama setahun membentuk badan yang tidak bisa dibangun dalam satu bulan brutal.

James Clear menulis di Atomic Habits: perbaikan 1% per hari, kalau dikompound, hasilnya 37 kali lebih baik setelah setahun. Matematikanya benar. Yang susah itu tetap percaya waktu hasilnya belum kelihatan sama sekali.

Hasilnya biasanya datang waktu saya sudah lupa menghitung.

5. Asumsi kalau semua ingin yang positif.

Ini prinsip yang paling sering diuji, biasanya lewat email.

Ada email yang nadanya kasar. Saya coba anggap pengirimnya sedang bad day, bukan orang jahat. Klien minta perubahan mendadak. Mungkin ada tekanan dari atasannya yang saya tidak tahu. Anggota tim miss deadline. Mungkin ada hambatan yang belum sempat dia ceritakan, dan belum tentu karena malas.

Hanlon’s Razor, versi yang lebih lembut: never attribute to malice that which can be adequately explained by… being human.

Ini tidak sama dengan naif. Benefit of the doubt cuma titik awal, dan saya boleh mengubahnya kalau buktinya datang. Mulai dari asumsi positif bikin keputusan saya lebih adil. Hidup juga jadi lebih ringan, karena saya tidak perlu menyimpan dendam ke separuh inbox.

Saya belajar ini setelah bertahun-tahun jadi manajer. Orang yang saya curigai biasanya lama-lama jadi pantas dicurigai. Orang yang saya percaya biasanya membalas dengan kepercayaan juga.

6. Peluk yang sulit, peluk yang membosankan.

Sebagian besar pekerjaan yang bernilai itu tidak enak waktu dikerjakan. Menulis itu sulit. Debugging itu menyebalkan. Difficult conversation dengan tim itu menguras tenaga. Belajar skill baru bikin frustrasi.

Tapi yang benar-benar menyelesaikan masalah hampir selalu yang sulit atau yang membosankan. Yang menyenangkan, misalnya meeting banyak tanpa outcome, brainstorm tanpa follow-up, atau scroll Twitter sambil merasa sedang “research”, biasanya cuma noise.

Mark Manson menulis bahwa pertanyaan yang tepat bukan “apa yang kamu inginkan?” tapi “penderitaan apa yang kamu bersedia tanggung?” Semua orang mau badan fit. Tidak semua orang mau bangun jam 5 pagi untuk lari di udara dingin.

Saya mau, kadang-kadang. Yang kadang-kadang itu yang sedang saya kerjakan.

7. Matikan AC. Matikan lampu. Buang sampah.

Ini kedengarannya terlalu remeh untuk masuk daftar prinsip. Sebentar.

Ini bukan soal hemat listrik atau kebersihan, walaupun dua-duanya bagus. Ini soal ownership. Ruang di sekitar saya itu tanggung jawab saya, bukan tanggung jawab orang lain.

Di kantor, saya sering melihat AC menyala di ruangan kosong. Lampu menyala di toilet yang tidak dipakai. Sampah di meja dengan status “nanti aja.” Semuanya kecil. Tapi dari yang kecil-kecil ini tumbuh kebiasaan menunggu orang lain mengerjakan hal yang bisa kita kerjakan sendiri.

Broken windows theory, versi kantor. Ruangan rapi bikin orang berperilaku rapi. Ruangan berantakan bikin… lebih banyak berantakan.

Lagipula, mematikan lampu di ruangan kosong itu memuaskan. Kecil, nyata, dan tidak ada yang lihat.


Hindari

1. Jangan biarkan power bikin corrupt.

Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”

Saya sudah melihat ini terjadi berkali-kali, termasuk di cermin. Waktu SoftwareSeni mulai tumbuh dan tim saya makin besar, ada momen-momen di mana saya sadar saya mengambil keputusan bukan karena itu yang terbaik. Saya mengambilnya karena bisa. Karena tidak ada yang membantah. Karena saya merasa “yang paling tahu.”

Power yang tidak pernah dibantah menghasilkan keputusan yang malas.

Obatnya, yang masih terus saya tambal, adalah memastikan ada orang di sekitar saya yang berani bilang “kamu salah.” Bukan yes-man yang setuju karena saya atasannya. Orang yang cukup peduli untuk jujur.

Waktu ada yang bilang saya salah, reaksi pertama saya tidak selalu defensif. Oke, kadang defensif. Saya masih manusia, dan manusia yang agak keras kepala. Tapi saya coba ambil jeda sebelum menjawab. Di jeda itu, sering saya sadar mereka benar, dan itu tidak pernah enak.

2. Jangan judge.

Ini yang paling sulit, karena menilai orang itu gampang sekali. Lihat orang sukses, langsung saya asumsikan dia pasti kerja keras. Lihat orang gagal, langsung saya asumsikan dia pasti malas.

Kenyataannya jauh lebih ruwet. Ada orang yang kerja kerasnya luar biasa dan tetap gagal karena hal di luar kendali mereka. Ada orang yang sukses besar, dan kalau mau jujur, banyak keberuntungan di situ. Right place, right time, right connections.

Nassim Taleb menyebutnya survivorship bias. Kita cuma melihat yang berhasil, lalu bikin cerita dari keberhasilan mereka. Kita jarang melihat yang gagal padahal melakukan hal yang persis sama.

Buat saya ini urusan praktis. Cara saya memperlakukan orang tergantung cara saya menilai mereka. Kalau saya anggap orang yang gagal itu “malas,” saya tidak akan menolong mereka. Kalau saya ingat kegagalan punya seribu wajah, saya jadi lebih compassionate. Dan compassion, ternyata, salah satu tool manajemen yang paling ampuh. Saya tidak menyangka.


Catatan penutup

Prinsip-prinsip ini bukan prasasti. Saya menulisnya untuk diri sendiri, dan saya sendiri yang paling sering melanggarnya. Kadang saya bilang ya padahal harusnya tidak. Kadang saya malas dan meninggalkan AC menyala. Kadang saya judge orang sebelum tahu ceritanya.

Jadi saya tulis, saya langgar, saya tulis lagi. Menuliskan apa yang saya percaya, ternyata, sudah ada gunanya sendiri, walaupun besok saya langgar lagi.

Kemungkinan besar daftar ini akan berubah. Seperti software, ia butuh update. Versi ini masih penuh bug.

Photo by Markus Spiske on Unsplash

— Ganis

If that was any good

I send a letter when there’s a new essay. That’s the whole deal.