Ganis Atmawarin
About Writing Reading Running Newsletter
Tidak Gagal Bangun Pagi

Tidak Gagal Bangun Pagi

“Keep your face always toward the sunshine – and shadows will fall behind you.” – Walt Whitman

Saya adalah kelelawar. Melek di malam hari untuk lalu tidur hingga siang. Tiap pagi, ajakan selimut untuk tetap meringkuk selalu saya iyakan dengan anggukan dan senyum setuju.

Tapi dalam 2 tahun terakhir ini saya mencoba membangkang kepada yang alami. Menggeser ritme circadian saya menjadi ayam.

Alasannya rupa-rupa. Mungkin karena saya sedang berlatih untuk ikut marathon dan lari malam hari kok rasanya ngeri. Mungkin karena pagi adalah janji tentang ketenangan. Mungkin karena saya termakan janji madu Robin Sharma di 5 AM Book Club. Pendek kata saya cukup bertekad untuk bangun pagi, yang sebenernya cukup mengherankan untuk diri saya sendiri.

Usaha saya lumayan berhasil. Kalau merujuk dengan tracking app yang saya gunakan, sukses ratenya 93%. Rahasianya? Tiga Alarm.

Yip. Tiga alarm. Satu gegabah. Dua kurang. Tiga pas. Lebih dari itu cuma bikin jengkel.

Untuk yang ingin coba bangun pagi juga, ini lumayan manjur dan jitu. Dicoba deh.

Saya sendiri, jujur saja, hingga hari ini, bangun pagi masih tidak nyaman buat saya. Bangun pagi tidak lantas otomatis produktif. Beberapa bulan pertama saya mencoba bangun pagi malah saya lewatkan dengan menonton highlight bola. Waktu tidak mendefinisikan kualitas. Niatan iya.

Saya masih mencoba bangun pagi hari ini. Melakukan yang tidak nyaman. Karena mungkin, mungkin saja, kalau bagian tersulit dari hari sudah saya lalui, sisa hari saya akan jadi lebih mudah.


Tapi ada lebih banyak cerita dari sekadar tiga alarm.

Perang dengan Circadian Rhythm

Circadian rhythm — ritme biologis 24 jam tubuh kita — bukan sekadar jargon ilmiah yang terdengar keren. Ini nyata. Terukur. Dan, bagi sebagian orang seperti saya, ini musuh yang tangguh.

Penelitian dari Matthew Walker — profesor neuroscience di UC Berkeley dan penulis Why We Sleep — menunjukkan bahwa chronotype seseorang (apakah kamu night owl atau morning lark) sebagian besar ditentukan oleh genetik. Ini bukan soal disiplin. Ini soal biologi.

Jadi ketika saya, seorang night owl sejati, memaksa diri bangun jam 5 pagi, saya sedang berperang melawan DNA saya sendiri. Melodramatis? Mungkin. Tapi rasanya memang seperti itu — terutama di menit-menit pertama setelah alarm ketiga berbunyi dan otak saya berteriak “TIDUR LAGI.”

Walker juga menulis bahwa memaksa night owl bangun pagi itu seperti memaksa orang kidal menulis dengan tangan kanan — bisa, tapi tidak pernah benar-benar natural. Ini membuat saya merasa sedikit lebih baik tentang struggle saya. Setidaknya ada penjelasan ilmiah kenapa ini begitu sulit.

Tapi sains juga bilang bahwa circadian rhythm itu malleable — bisa digeser, perlahan, dengan konsistensi. Cahaya pagi membantu. Tidur di jam yang sama setiap malam membantu. Mengurangi blue light sebelum tidur membantu. Dan ya, alarm yang banyak membantu.

Ritual Pagi yang Berantakan

Ada industri besar yang dibangun di atas konsep “morning routine.” Podcast, buku, YouTube video — semuanya bercerita tentang orang-orang sukses yang bangun jam 4 pagi, meditasi selama 30 menit, journaling, cold shower, lari 10km, membaca satu bab buku, dan sarapan superfood. Semua sebelum jam 7 pagi.

Saya ingin jujur: morning routine saya tidak seperti itu.

Beberapa bulan pertama, seperti yang saya tulis di atas, saya bangun pagi lalu menonton highlight bola. Terkadang saya bangun, duduk di sofa, dan menatap dinding selama dua puluh menit. Terkadang saya membuat kopi, lalu lupa meminumnya sampai dingin. Terkadang saya membuka laptop dengan niat produktif, lalu berakhir scrolling Twitter selama satu jam.

Ini bukan inspirational content. Ini realita.

Tapi perlahan — sangat perlahan — berantakan itu mulai menemukan bentuknya. Bukan karena saya menemukan formula ajaib. Tapi karena otak saya, setelah cukup banyak pagi yang berantakan, mulai mengerti bahwa waktu ini adalah miliknya. Dan ia mulai mengisinya dengan hal-hal yang berguna — kadang menulis, kadang berpikir, kadang stretching sederhana sebelum lari.

Kuncinya bukan punya routine yang sempurna. Kuncinya punya waktu yang konsisten. Isi bisa berubah. Waktu yang sama, setiap hari, itu yang menciptakan kebiasaan.

Lari di Pagi Hari

Salah satu alasan terbesar saya bangun pagi adalah lari. Dan lari di pagi hari, di Jogja, adalah pengalaman yang sulit dijelaskan tanpa mengalaminya.

Jam 5:15 pagi. Langit masih gelap di bagian barat, tapi di timur sudah ada semburat oranye. Udara sejuk — bukan dingin, Jogja jarang dingin, tapi sejuk cukup untuk membuat napas terasa segar. Jalanan masih sepi. Kadang ada tukang becak yang baru bangun, atau ibu-ibu yang sudah menyapu halaman.

Suara langkah kaki di aspal itu punya ritme sendiri. Ketika saya mulai lari, pikiran saya masih berantakan — worry tentang pekerjaan, task list yang belum selesai, email yang belum dibalas. Tapi setelah kilometer kedua atau ketiga, semuanya mulai jernih. Seperti air keruh yang dibiarkan diam — kotoran mengendap, airnya bening.

Haruki Murakami — novelis yang juga pelari marathon — menulis dalam What I Talk About When I Talk About Running: “I run in order to acquire a void.” Lari untuk mendapatkan kekosongan. Kedengarannya filosofis. Tapi secara praktikal, ini benar: lari membersihkan mental clutter dengan cara yang tidak bisa ditiru oleh meditasi, journaling, atau apapun yang saya coba.

Dan lari pagi lebih baik dari lari sore atau malam, bukan karena benefitnya secara fisik berbeda (menurut riset, timing exercise itu personal), tapi karena satu alasan sederhana: di pagi hari, belum ada yang bisa mengganggu. Belum ada email masuk. Belum ada WhatsApp berbunyi. Belum ada meeting. Waktu itu murni milikmu.

Filosofi Melakukan yang Sulit Lebih Dulu

Mark Twain (konon) bilang: “Eat a live frog first thing in the morning, and nothing worse will happen to you the rest of the day.”

Ini lebih dari sekadar productivity hack. Ini filosofi hidup.

Ketika kamu memulai hari dengan melakukan hal yang paling tidak nyaman — bangun ketika tubuh ingin tidur, lari ketika otot masih kaku, berpikir ketika otak masih kabur — kamu membangun sesuatu yang lebih bernilai dari produktivitas: resilience.

Nassim Taleb menulis tentang konsep “antifragile” — sistem yang tidak hanya tahan terhadap tekanan, tapi menjadi lebih kuat karenanya. Tulang yang diberi tekanan menjadi lebih padat. Otot yang dirobek saat latihan tumbuh lebih besar. Dan mungkin — ini hipotesis pribadi saya — tekad yang diuji setiap pagi menjadi lebih tajam.

Saya tidak punya bukti ilmiah bahwa bangun pagi membuat sisa hari lebih mudah. Tapi saya punya pengalaman empiris: di hari-hari ketika saya berhasil bangun pagi dan lari, saya lebih sabar di meeting, lebih fokus saat ngoding, lebih tenang menghadapi masalah. Bukan karena lari pagi punya efek magis. Tapi karena saya sudah “menang” satu kali hari itu — melawan selimut — dan kemenangan kecil itu mewarnai semua yang datang setelahnya.

93% dan 7% yang Lain

Sukses rate 93% terdengar impressive. Tapi biar saya ceritakan tentang 7% yang gagal.

Ada pagi-pagi ketika alarm ketiga berbunyi dan saya mematikannya tanpa membuka mata. Ada pagi-pagi ketika saya bangun, melihat hujan deras di luar jendela, dan memutuskan bahwa hari ini bukan hari yang tepat. Ada pagi-pagi ketika saya begadang terlalu larut — karena deadline, karena ngobrol, karena overthinking — dan tubuh menolak untuk kooperatif.

Di 7% itu, saya belajar sesuatu penting: gagal bangun pagi bukan kegagalan moral. Ini bukan tanda bahwa kamu lemah atau tidak disiplin. Ini tanda bahwa kamu manusia.

Yang membedakan orang yang berhasil membangun kebiasaan dari yang tidak bukan zero failure rate. Tapi kemampuan untuk kembali. Gagal hari Selasa, bangun lagi hari Rabu. Tanpa drama. Tanpa self-flagellation. Tanpa membuat kegagalan kecil menjadi bukti bahwa kamu tidak layak.

Dua Tahun Kemudian

Dua tahun setelah memulai eksperimen ini, saya masih bukan morning person. Saya tidak pernah menjadi orang yang bangun dengan senyum cerah dan perasaan bersyukur terhadap hari baru. Setiap pagi masih perang. Setiap pagi masih tidak nyaman.

Tapi saya sudah tidak mencoba menjadi morning person. Saya hanya mencoba menjadi orang yang bangun pagi. Ada perbedaan. Morning person menikmati pagi. Saya menoleransi pagi. Dan toleransi, ternyata, sudah cukup.

Selimut masih mengajak. Saya masih kadang menyerah. Tapi lebih sering, saya berdiri. Mematikan alarm ketiga. Membuat kopi. Mengikat sepatu lari.

Dan di luar sana, Jogja pagi hari menunggu — dengan udara sejuknya, langit yang perlahan terang, dan jalanan yang sepi.

Itu saja sudah cukup alasan.

Photo by Jonas Weckschmied on Unsplash

Juli 16, 2019
Tribute to

Beatrice Warde

Inspired by Beatrice Warde's The Crystal Goblet (1932). Warde argued that typography should be invisible — like a crystal goblet that reveals the wine inside. Good type doesn't draw attention to itself; it draws attention to the words. She was one of the first great type scholars and the only woman in a room full of men who didn't know what they were looking at.

Typography — Perpetua + Gill Sans (in spirit)Color — #2C3E50
Tags:
note morning routine life

Related Posts

Why I Keep Coming Back to Yogyakarta

Super Power Bernama Buku

Berbeda Sebagai Strategi

Principle

Teknologi Bukan Kompetitif Advantage untuk Perusahaan Software

Principle

Previous article next article
back to all articles
About Me

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Founder of Synetica. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, black hair. Chicken at party, lion at Pingpong.

Ganis Atmawarin signature
Navigations
Writing Reading About Running Newsletter Favourite
Contacts
I'm based in Yogyakarta
ganis@atmawarin.com
Send Message
subscribe To my weekly newsletter
No spam. Unsubscribe anytime.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Typography: The majestic Abril Fatface by Veronika Burian and José Scaglione & the effortlessly versatile Karla by Jonathan Pinhorn
All contents created by me, unless otherwise noted. You are allowed to copy, distribute, or display your derivative copy of my works without my permission